Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan setelah rilis data inflasi terbaru dari Amerika Serikat memberikan angin segar bagi pasar aset berisiko. Berdasarkan data TradingView, BTC sempat mencatat kenaikan harian hingga sekitar 4%, dengan harga menyentuh level US$69.190 di bursa Bitstamp. Lonjakan ini memperlihatkan respons cepat pasar kripto terhadap perkembangan makroekonomi, khususnya terkait arah kebijakan suku bunga.
Penguatan Bitcoin dipicu oleh rilis Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS bulan Januari yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi. Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi inti (core CPI) berada di angka 2,5%—sesuai perkiraan analis. Sementara itu, inflasi umum tercatat 2,4%, atau 0,1% lebih rendah dari proyeksi pasar.
Meski selisihnya relatif tipis, pasar menilai penurunan ini sebagai sinyal positif bahwa tekanan inflasi mulai mereda. Lembaga riset pasar The Kobeissi Letter menyoroti bahwa tingkat inflasi inti kini berada di level terendah sejak Maret 2021. Kondisi tersebut memperkuat narasi bahwa siklus pengetatan moneter Federal Reserve berpotensi mendekati akhir.
Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga pun kembali menguat. Namun demikian, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 0,25% pada pertemuan The Fed bulan Maret masih tergolong kecil, yakni di bawah 10% menurut data CME FedWatch Tool. Sebelumnya, peluang pemangkasan bahkan sempat nyaris tidak diperhitungkan akibat kuatnya data pasar tenaga kerja AS.
Dari sudut pandang lain, Andre Dragosch, Head of Research Eropa di Bitwise, menilai pelemahan CPI bukanlah kejutan besar apabila menggunakan indikator inflasi alternatif seperti Truflation, yang sebelumnya sudah lebih dulu menunjukkan tren penurunan inflasi.
Di pasar makro lainnya, harga emas sempat mencoba kembali menembus level psikologis US$5.000 per ounce. Indeks dolar AS (DXY) juga berupaya pulih setelah sempat melemah ke area 96,8 pasca rilis data inflasi. Sementara itu, pasar saham AS justru tidak mengikuti euforia Bitcoin dan tercatat bergerak sedikit melemah.
Dari sisi teknikal, pelaku pasar masih mempertahankan sikap hati-hati. Trader Daan Crypto Trades menilai Bitcoin masih bergerak dalam pola falling wedge—sebuah pola yang kerap diasosiasikan dengan potensi breakout naik. Namun upaya penembusan resistance sebelumnya gagal setelah harga tertolak di area US$68.000, yang kini menjadi level kunci.
Zona US$68.000 hingga US$69.000 dinilai sangat penting karena bertepatan dengan rekor harga tertinggi Bitcoin pada 2021 serta garis 200-week exponential moving average (EMA). Analis Michaël van de Poppe memproyeksikan Bitcoin masih berpeluang membentuk struktur higher low di area ini. Meski pasar dinilai masih rapuh, momentum kenaikan dinilai bisa kembali muncul apabila dukungan makro dan sentimen investor terus membaik.






