Pemerintah Amerika Serikat dan Taiwan resmi menuntaskan perjanjian dagang resiprokal yang menetapkan tarif impor AS sebesar 15% terhadap berbagai produk asal Taiwan. Kesepakatan final ini menjadi kelanjutan dari kerangka kerja perdagangan yang sebelumnya telah disepakati pada awal tahun, sekaligus mempertegas arah hubungan ekonomi kedua negara di tengah dinamika rantai pasok global.
Sebagai bagian dari perjanjian, Taiwan menyetujui komitmen untuk menurunkan hingga menghapus tarif atas hampir seluruh barang impor dari Amerika Serikat secara bertahap. Langkah ini dipandang sebagai upaya membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk AS, sekaligus menyeimbangkan struktur perdagangan bilateral yang selama ini didominasi ekspor teknologi tinggi dari Taiwan.
Tak hanya soal tarif, Taiwan juga berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi dan industri strategis dari Amerika Serikat sepanjang 2025–2029. Nilainya mencapai puluhan miliar dolar AS, mencakup impor gas alam cair dan minyak mentah, pesawat sipil beserta mesin, hingga berbagai peralatan jaringan listrik, generator, serta perlengkapan industri maritim dan baja. Kesepakatan pembelian jangka panjang ini diharapkan mampu memperkuat kerja sama industri sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi dan manufaktur.
Dari sisi tarif, kebijakan terbaru ini menurunkan bea masuk produk Taiwan—termasuk dari sektor semikonduktor—menjadi 15% dari sebelumnya 20%. Penyesuaian tersebut menempatkan Taiwan pada level kompetitif yang setara dengan negara eksportir utama Asia seperti Korea Selatan dan Jepang, sehingga menjaga daya saing industrinya di pasar Amerika.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menyebut perjanjian ini sebagai titik penting transformasi ekonomi nasional. Ia menilai kesepakatan tersebut tidak hanya mengoptimalkan hubungan dagang, tetapi juga memperkuat kemitraan strategis di sektor teknologi tinggi serta membangun rantai pasok industri yang lebih andal dan tepercaya.
Selain itu, lebih dari 2.000 jenis produk ekspor Taiwan memperoleh pengecualian dari tarif resiprokal AS. Kebijakan ini turut menurunkan rata-rata tarif atas barang AS yang masuk ke Taiwan, sehingga menciptakan struktur perdagangan yang lebih seimbang. Meski demikian, implementasi penuh perjanjian masih menunggu persetujuan parlemen Taiwan.
Dalam aspek investasi, perusahaan Taiwan sebelumnya telah menjanjikan komitmen besar untuk menanamkan modal di Amerika Serikat, khususnya di sektor semikonduktor, energi, dan kecerdasan buatan. Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas produksi baru hingga ekspansi industri teknologi canggih, yang bertujuan memperkuat ekosistem manufaktur strategis di AS.
Perjanjian ini juga langsung menghapus tarif tinggi Taiwan terhadap sejumlah produk pertanian Amerika seperti daging sapi, produk susu, dan jagung. Namun, beberapa komoditas tertentu masih dikenakan tarif yang hanya diturunkan sebagian.
Bagi Amerika Serikat, kesepakatan ini membuka peluang ekspor lebih luas sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok, terutama di sektor teknologi. Hal ini menjadi krusial mengingat defisit perdagangan AS terhadap Taiwan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dipicu lonjakan impor chip AI berteknologi tinggi.






