Saham Amazon (NASDAQ: AMZN) kembali menjadi sorotan tajam Wall Street setelah laporan keuangan kuartal keempat 2025 memicu reaksi yang jauh dari kata-kata hangat. Alih-alih merayakan pertumbuhan pendapatan dua digit, pasar justru menghukum raksasa e-commerce dan cloud computing ini. Harga sahamnya sempat mendekati level psikologis US$200 pada perdagangan awal Februari, mencerminkan kegelisahan investor terhadap lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) yang diumumkan manajemen.
Secara fundamental, kinerja Amazon sebenarnya tidak bisa disebut mengecewakan. Pendapatan kuartal IV 2025 tumbuh 14% secara tahunan (year-over-year) menjadi US$213,4 miliar, melampaui estimasi analis dan panduan perusahaan sendiri. Namun, laba per saham (EPS) tercatat US$1,95, sedikit di bawah ekspektasi pasar. Selisih tiga sen memang terdengar kecil, tetapi pasar modern jarang bersikap rasional ketika ekspektasi sudah terlalu tinggi.
Pemicu utama aksi jual bukanlah selisih EPS tersebut, melainkan proyeksi capex 2026 yang melonjak drastis menjadi US$200 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan US$131 miliar tahun sebelumnya dan sekitar US$50 miliar di atas perkiraan konsensus analis. Dalam iklim investasi yang semakin disiplin terhadap arus kas dan profitabilitas, kenaikan belanja sebesar itu dianggap terlalu agresif.
Sejumlah broker besar pun bergerak cepat menyesuaikan pandangan mereka. Scotiabank, Oppenheimer, Piper Sandler, Morgan Stanley, hingga Cantor Fitzgerald memangkas target harga saham Amazon. DA Davidson bahkan menurunkan peringkat saham dari “Buy” menjadi “Hold” dengan target harga US$175. Analisisnya menyebut Amazon mulai “kehilangan keunggulan” di bisnis cloud dan kini harus mengejar ketertinggalan lewat investasi besar-besaran.
Namun, manajemen Amazon punya narasi berbeda. CEO Andy Jassy menegaskan bahwa investasi agresif tersebut difokuskan pada peluang jangka panjang, terutama di bidang kecerdasan buatan (AI), pengembangan chip, satelit orbit rendah melalui Proyek Kuiper, quick commerce, serta ekspansi kebutuhan harian konsumen. Ia menekankan bahwa perusahaan melihat peluang pertumbuhan besar dengan potensi imbal hasil investasi yang kuat.
Amazon Web Services (AWS), mesin laba utama perusahaan, mencatat pertumbuhan pendapatan 24% yang tercepat dalam 13 kuartal terakhir. Meski secara persentase pertumbuhannya terlihat lebih lambat dibanding beberapa pesaing, dalam nilai dolar absolut AWS masih menunjukkan ekspansi signifikan. Selain itu, bisnis chip internal Amazon kini telah mencapai tingkat pendapatan tahunan sekitar US$10 miliar, sementara layanan Prime yang didukung iklan telah menjangkau 315 juta penonton.
Meski demikian, pasar tampak belum sepenuhnya yakin. Lonjakan capex hampir pasti akan menekan arus kas bebas (free cash flow) pada 2026, bahkan berpotensi mendorongnya ke wilayah negatif. Dalam era suku bunga yang belum sepenuhnya longgar dan investor yang lebih selektif, janji pertumbuhan jangka panjang saja tidak lagi cukup untuk menenangkan kekhawatiran.
Di sisi lain, dari perspektif valuasi, tekanan harga saham membuat rasio forward price-to-earnings (P/E) Amazon turun ke sekitar 28,2 kali. Untuk perusahaan dengan skala global, dominasi di e-commerce, posisi strategis di cloud, serta ekspansi AI dan iklan digital, valuasi tersebut mulai terlihat lebih rasional dibandingkan periode euforia sebelumnya. Rata-rata target harga analis masih berada di kisaran US$297,51, lebih dari 40% di atas level saat ini.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Amazon mampu kembali ke US$300, melainkan apakah pasar bersedia memberi waktu bagi strategi agresif ini untuk membuahkan hasil. Jika investasi AI dan infrastruktur cloud mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang konsisten dalam dua tahun ke depan, skeptisisme hari ini bisa berubah menjadi penyesalan bagi mereka yang menjual terlalu cepat.
Sejarah Amazon menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak asing dengan fase pengorbanan laba demi ekspansi jangka panjang. Model tersebut pernah berhasil di masa lalu, tetapi konteks makroekonomi saat ini berbeda. Investor dituntut untuk menimbang antara risiko tekanan arus kas jangka pendek dan potensi dominasi jangka panjang di sektor AI serta cloud computing.
Bagi sebagian pelaku pasar, koreksi ini terlihat sebagai peluang akumulasi saham berkualitas pada harga diskon. Bagi yang lain, lonjakan capex menjadi sinyal kehati-hatian. Seperti biasa di pasar saham, jawaban akhirnya akan ditentukan oleh waktu dan oleh kemampuan Amazon membuktikan bahwa setiap dolar investasi hari ini benar-benar menciptakan nilai tambah esok hari.






