Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tekanan setelah gagal mempertahankan kekuatan di area psikologis US$70.000. Berdasarkan data TradingView, harga BTC mencatat penurunan harian hampir 3% usai level tersebut kembali gagal berfungsi sebagai zona support yang solid. Kondisi ini mempertegas bahwa pasar masih berada dalam fase ketidakpastian, dengan pelaku pasar belum menemukan katalis kuat untuk mendorong reli lanjutan.
Di tengah proyeksi sebagian analis yang masih membuka kemungkinan koreksi hingga ke area US$50.000 atau lebih rendah, pasangan BTC/USD dinilai belum memberikan sinyal teknikal yang cukup meyakinkan untuk membalikkan sentimen menjadi bullish. Tekanan jual yang masih dominan membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi baru.
Keith Alan, Co-Founder Material Indicators, menyoroti pentingnya rentang konsolidasi sempit yang sedang terjadi saat ini. Menurutnya, Bitcoin memang masih memperlihatkan tanda-tanda pelemahan di sekitar US$69.000. Namun jika menilik struktur historis, level ini bukan sekadar angka psikologis biasa.
Ia mengingatkan bahwa sepanjang 2024, harga BTC sempat menghabiskan waktu sangat panjang untuk berkonsolidasi di area tersebut. Fase konsolidasi sekitar delapan bulan, ditambah dengan puncak siklus 2021, dinilai telah membentuk struktur teknikal yang kuat. Hal ini membuat zona US$69.000 memiliki signifikansi tinggi dalam menentukan arah tren berikutnya.
Alan menjelaskan bahwa level ini dapat berperan sebagai “pedang bermata dua.” Jika muncul katalis positif yang memicu pemulihan harga, maka konsolidasi tambahan di rentang ini justru akan memperkuat fondasi support jangka menengah. Sebaliknya, jika tren turun berlanjut, area yang sama berpotensi berubah menjadi resistance yang jauh lebih solid dibandingkan sebelumnya. Untuk menembusnya kembali, dibutuhkan lonjakan momentum yang besar—sesuatu yang saat ini dinilai belum terlihat secara konsisten.
Dalam time frame lebih pendek, trader anonim Killa melihat peluang terbentuknya titik dasar lokal. Berdasarkan analisis statistik yang ia bagikan, harga Bitcoin kerap mencetak puncak atau dasar bulanan di antara hari keempat hingga ketujuh dalam satu candle bulanan—periode yang kini kembali menjadi perhatian trader.
Ia juga menyoroti pola menarik terkait performa posisi short. Sejak Bitcoin mulai melemah dari all-time high pada Oktober 2025, hari Senin tercatat menjadi momen yang cukup menguntungkan bagi strategi bearish. Dalam empat bulan terakhir, membuka posisi short setiap hari Senin bahkan disebut menghasilkan 18 kemenangan dari 19 transaksi.
Sementara itu, data CoinGlass menunjukkan bahwa performa Bitcoin sepanjang Februari 2026 mencatat penurunan sekitar 14,4% secara month-to-date. Angka ini hampir menyamai pelemahan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski terlihat signifikan, secara historis sejak 2013, Februari hanya tiga kali berakhir di zona negatif—menunjukkan bahwa tekanan saat ini belum tentu mencerminkan tren jangka panjang pasar kripto.






