Di saat banyak saham software global tertekan akibat kekhawatiran bahwa gelombang kecerdasan buatan (AI) bisa mengganggu model bisnis lama, Databricks justru melaju ke arah sebaliknya. Perusahaan analitik data berbasis AI itu mengumumkan berhasil mengamankan pendanaan baru sebesar $5 miliar, dengan valuasi melonjak ke $134 miliar.
Angka ini bukan sekadar besar. Ini adalah pernyataan.
Di tengah aksi jual saham software di pasar publik, Databricks justru menunjukkan bahwa modal swasta masih percaya penuh pada narasi pertumbuhan AI terutama di sektor enterprise.
Suntikan Modal $7 Miliar: Siaga Hadapi “Musim Dingin”
Pendanaan ekuitas $5 miliar itu diperkuat dengan tambahan kapasitas utang sebesar $2 miliar, sehingga total injeksi modal mencapai $7 miliar. CEO Databricks, Ali Ghodsi, menyebut langkah ini sebagai strategi untuk memperkuat neraca perusahaan “jika musim dingin datang”.
Pernyataan tersebut bukan tanpa konteks. Dalam beberapa bulan terakhir, investor global mulai mempertanyakan apakah lonjakan AI akan menciptakan nilai nyata atau sekadar gelembung baru. Ketidakpastian suku bunga, volatilitas pasar, dan koreksi saham teknologi membuat banyak perusahaan memilih defensif.
Namun Databricks justru mempertebal amunisi.
Secara fundamental, perusahaan melaporkan annualized revenue run rate naik 65% menjadi $5,4 miliar pada kuartal keempat. Produk AI mereka sendiri telah menghasilkan $1,4 miliar pendapatan tahunan, angka yang memperkuat klaim bahwa mereka bukan sekadar penonton dalam revolusi AI, melainkan salah satu penerima manfaat langsung.
AI Bukan Ancaman, Tapi Mesin Konsumsi Data
Ali Ghodsi menegaskan bahwa salah satu alasan pendanaan ini oversubscribed adalah karena investor melihat Databricks sebagai “AI beneficiary”.
Logikanya sederhana namun kuat: semakin banyak agen AI berjalan, baik chatbot, sistem otomatisasi, maupun model generatif, semakin besar konsumsi data yang dibutuhkan. Dan Databricks berada tepat di jantung infrastruktur tersebut.
Platform mereka memungkinkan perusahaan mengolah, menganalisis, dan membangun aplikasi AI dari data kompleks dari berbagai sumber. Dalam era di mana data adalah bahan bakar AI, Databricks menjual kilang sekaligus mesin pengolahnya.
Kompetisi tentu ada. Snowflake menjadi rival utama di sektor data cloud. Namun, dengan percepatan pengembangan produk seperti Lakebase (database fokus AI) dan Genie (asisten percakapan berbasis AI), Databricks tampaknya ingin memastikan dirinya tetap relevan di lapisan infrastruktur paling krusial.
IPO atau Tetap Privat?
Dengan valuasi $134 miliar, Databricks semakin sering disebut sebagai kandidat IPO besar berikutnya, sejajar dengan nama-nama seperti SpaceX, OpenAI, dan Anthropic. Apalagi pasar IPO mulai menunjukkan tanda-tanda pencairan setelah suku bunga mereda dan pasar ekuitas rebound.
Namun, Ghodsi memberi sinyal berbeda. Menurutnya, tetap menjadi perusahaan privat memungkinkan manajemen fokus pada pertumbuhan tanpa “teater kuartalan” pasar publik. Perusahaan juga berencana menyediakan opsi likuiditas bagi karyawan melalui neraca internal, tanpa harus langsung melantai di bursa.
Sebagian pengamat mendukung langkah ini. Michael Ashley Schulman dari Running Point Capital Advisors menyatakan bahwa jika pasar privat bersedia memberi valuasi tinggi tanpa tekanan jangka pendek, mempertahankan kontrol bisa menjadi pilihan yang lebih rasional.
Di sisi lain, IPO Databricks berpotensi menjadi katalis besar bagi pasar modal global. Kehadiran emiten teknologi bernilai jumbo dapat menjadi indikator kuat bahwa siklus pendanaan teknologi kembali hidup.
Siapa di Balik Pendanaan Ini?
Putaran pendanaan ini melibatkan nama-nama besar seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, Qatar Investment Authority, hingga Neuberger Berman. Sementara JPMorgan Chase memimpin pembiayaan utang.
Partisipasi institusi kelas kakap ini menjadi validasi tersendiri. Modal besar jarang bergerak tanpa kalkulasi matang.
Apa Artinya bagi Investor?
Bagi investor publik, Databricks mungkin belum bisa dibeli secara langsung. Namun, pergerakan valuasinya memberikan sinyal penting tentang arah industri.
Jika perusahaan infrastruktur AI seperti Databricks terus mencetak pertumbuhan dua digit tinggi dan menarik dana jumbo, maka ekosistem AI enterprise kemungkinan belum memasuki fase jenuh.
Pertanyaannya kini bergeser:
Apakah reli AI masih punya bahan bakar? Atau kita sedang menyaksikan fase akhir dari euforia sebelum realitas fundamental diuji lebih keras?
Databricks jelas bertaruh bahwa permintaan data dan AI akan terus meledak. Dengan neraca yang diperkuat dan pertumbuhan pendapatan yang solid, mereka tampak siap menghadapi skenario terbaik atau terburuk.
Dan bagi pasar, langkah ini adalah pengingat: di tengah badai, selalu ada perusahaan yang justru mengembangkan layar lebih besar.






