Reksa dana berbasis kripto milik BlackRock kembali menjadi sorotan setelah mencatat lonjakan aktivitas perdagangan di tengah tekanan besar yang melanda pasar aset digital. Produk spot Bitcoin ETF mereka, iShares Bitcoin Trust (IBIT), dilaporkan membukukan volume transaksi harian tertinggi sepanjang peluncurannya. Nilai saham yang berpindah tangan dalam satu hari mencapai sekitar US$10 miliar, mencerminkan reaksi agresif pelaku pasar terhadap penurunan tajam harga Bitcoin.
Lonjakan volume ini terjadi bersamaan dengan koreksi harga yang signifikan. Pada perdagangan Kamis, harga IBIT tercatat turun sekitar 13% dalam sehari. Angka tersebut menjadi penurunan harian terbesar kedua sejak ETF ini resmi diperdagangkan di bursa. Sebagai perbandingan, penurunan terdalam sebelumnya terjadi pada 8 Mei 2024, ketika nilainya merosot sekitar 15% dalam satu sesi.
Tekanan tidak hanya terlihat dari sisi harga, tetapi juga dari arus dana. Sehari sebelum lonjakan volume tersebut, IBIT membukukan arus keluar bersih sebesar US$373,4 juta. Sepanjang tahun 2026, ETF ini baru mencatatkan sekitar 10 hari dengan arus masuk bersih, menandakan bahwa minat investor masih cenderung fluktuatif. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar sejak pasar kripto mengalami guncangan besar pada awal Oktober lalu.
Dari sisi aset acuan, Bitcoin memang tengah berada dalam fase koreksi. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin sempat turun sekitar 12% ke kisaran US$64.000 setelah sebelumnya menyentuh level terendah di sekitar US$60.300. Meski sempat mengalami rebound jangka pendek, tren yang lebih luas menunjukkan pelemahan signifikan. Jika dihitung dari rekor tertinggi di area US$126.000 pada awal Oktober, harga Bitcoin kini telah terkoreksi sekitar 50%.
Pergerakan IBIT pun bergerak selaras dengan aset dasarnya. ETF ini sempat menyentuh harga hampir US$70 pada periode yang sama di awal Oktober, sebelum akhirnya turun sekitar 48% dan ditutup di level US$36,10 pada akhir perdagangan terbaru. Hal ini menegaskan korelasi kuat antara performa ETF spot dengan dinamika harga Bitcoin di pasar global.
Sejumlah pengamat menilai tekanan pasar dipicu kombinasi faktor makroekonomi. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi. Di sisi lain, besarnya aliran investasi ke sektor kecerdasan buatan (AI) juga dinilai menyedot likuiditas dari aset berisiko seperti kripto.
Beberapa analis bahkan memperingatkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Minimnya minat beli di tengah volatilitas tinggi membuat pasar rentan terhadap aksi jual lanjutan. Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa meskipun adopsi institusional melalui ETF terus berkembang, pergerakan harga kripto tetap sangat dipengaruhi sentimen makro dan dinamika likuiditas global.






