Perusahaan Strategy kembali menjadi sorotan pasar kripto setelah sang pendiri sekaligus Executive Chairman, Michael Saylor, mengisyaratkan adanya penambahan kepemilikan Bitcoin di tengah tekanan harga yang terjadi sepanjang akhir pekan lalu. Harga Bitcoin sempat mengalami koreksi lebih dari 13%, yang untuk sementara waktu mendorong nilai aset digital tersebut berada di bawah harga beli rata-rata Strategy.
Melalui unggahan singkat bertuliskan “More Orange” di media sosial, Saylor membagikan grafik akumulasi pembelian Bitcoin perusahaannya sejak Agustus 2020. Unggahan tersebut secara luas dipahami sebagai sinyal bahwa Strategy kembali melakukan pembelian atau setidaknya sedang bersiap menambah eksposur terhadap Bitcoin. Selama ini, grafik serupa kerap digunakan Saylor sebagai indikator aksi akumulasi perusahaan.
Jika benar terjadi, pembelian tersebut akan menjadi akumulasi Bitcoin kelima Strategy sepanjang tahun ini. Sebelumnya, Strategy mencatatkan pembelian terbesar pada 20 Januari, dengan total lebih dari 22.000 BTC dalam satu transaksi. Hingga saat ini, Strategy masih menjadi perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, mengelola lebih dari 700.000 BTC sebagai bagian dari strategi neraca keuangannya.
Dalam lima tahun terakhir, pendekatan agresif Strategy terhadap Bitcoin terbukti memberikan hasil positif, seiring tren kenaikan harga aset kripto tersebut secara historis. Namun, koreksi harga terbaru membuat posisi perusahaan sempat berada di bawah harga beli rata-rata di kisaran US$76.000 per BTC. Kondisi tersebut hanya berlangsung singkat, karena harga Bitcoin kemudian kembali pulih mendekati level tersebut.
Tekanan pasar kripto kali ini tidak terlepas dari dinamika makroekonomi global. Sentimen negatif muncul setelah Presiden Amerika Serikat mengumumkan pencalonan figur baru untuk memimpin bank sentral AS. Sosok yang diusulkan dikenal memiliki pandangan lebih ketat terhadap kebijakan moneter, dengan fokus pada pengendalian inflasi dan pengurangan stimulus likuiditas. Pasar merespons perkembangan ini dengan sikap lebih defensif, tidak hanya di aset kripto, tetapi juga di pasar saham dan komoditas.
Harga emas dan perak tercatat mengalami penurunan signifikan setelah reli panjang dalam beberapa bulan terakhir. Indeks saham utama Amerika Serikat juga bergerak melemah, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan.
Di sisi lain, sentimen pelaku pasar kripto turut menunjukkan pelemahan. Indeks Crypto Fear & Greed turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan, mengindikasikan meningkatnya rasa takut di kalangan investor. Bahkan, sejumlah tokoh industri kripto mulai meredam optimisme terhadap potensi reli besar jangka panjang.
Meski demikian, langkah Strategy yang tetap agresif melakukan akumulasi di tengah volatilitas menegaskan keyakinan jangka panjang perusahaan terhadap Bitcoin sebagai aset strategis. Perkembangan ini kembali menegaskan bahwa dinamika pasar kripto tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga sangat sensitif terhadap arah kebijakan global dan sentimen makroekonomi.






