Bitcoin Terkoreksi, Emas Cetak Rekor di Tengah Memanasnya Ketegangan Dagang AS–Eropa
Pasar keuangan global kembali bergejolak setelah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dampaknya langsung terasa di pasar aset berisiko, termasuk kripto, sementara aset lindung nilai seperti emas justru mencetak rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.
Bitcoin mengalami tekanan jual signifikan pada awal pekan ini. Dalam waktu singkat, harga Bitcoin turun sekitar 3,6% atau hampir US$3.500, dari kisaran US$95.000 ke bawah level US$92.000. Penurunan cepat tersebut memicu gelombang likuidasi besar di pasar derivatif, dengan nilai posisi long yang terlikuidasi mencapai ratusan juta dolar hanya dalam beberapa jam. Total likuidasi dalam 24 jam terakhir bahkan menembus angka US$860 juta, mencerminkan tingginya volatilitas pasar.
Tekanan di pasar kripto terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang baru. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana penerapan tarif impor sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, yang dijadwalkan mulai berlaku pada awal Februari. Tarif tersebut berpotensi dinaikkan hingga 25% pada pertengahan tahun apabila tidak tercapai kesepakatan politik antara kedua pihak.
Respons dari Eropa pun tergolong keras. Sejumlah pemimpin Uni Eropa mendorong aktivasi instrumen anti-pemaksaan perdagangan, yang memungkinkan pembatasan akses Amerika Serikat ke pasar Eropa. Selain itu, Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan tarif balasan senilai puluhan miliar euro sebagai bentuk respons terhadap kebijakan proteksionis AS. Situasi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik dagang yang dapat berdampak luas pada perekonomian global.
Di tengah tekanan tersebut, pasar logam mulia justru mencatatkan kinerja impresif. Harga emas berjangka melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, menembus US$4.600 per ons. Perak juga mencetak rekor baru dengan harga di atas US$93 per ons. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Sejumlah analis menilai pergerakan Bitcoin saat ini semakin menyerupai saham teknologi, yang cenderung tertekan ketika sentimen risk-off mendominasi pasar. Ketika ketidakpastian meningkat, investor global umumnya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi ini menjelaskan mengapa emas menguat tajam, sementara kripto dan pasar saham justru melemah.
Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, sebagian pelaku pasar menilai volatilitas ini merupakan bagian dari dinamika siklus pasar. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi perdagangan dan respons kebijakan lanjutan dari Amerika Serikat maupun Uni Eropa. Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat pentingnya memahami risiko makro dan mengelola portofolio secara lebih seimbang di tengah ketidakpastian global.






