Harga minyak dunia mengalami koreksi setelah mencatatkan kenaikan selama lima hari berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh sinyal dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan bahwa AS belum akan mengambil langkah militer terhadap Iran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak.
Minyak Brent tercatat turun lebih dari 3% dan kembali diperdagangkan di bawah level US$65 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$60 per barel. Koreksi ini terjadi setelah reli kuat sekitar 11% dalam sepekan terakhir, yang sebagian besar didorong oleh risiko geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan global.
Trump menyampaikan bahwa dirinya memperoleh jaminan Iran akan menghentikan tindakan kekerasan terhadap para demonstran. Pernyataan ini menurunkan probabilitas respons militer langsung dari Amerika Serikat, sekaligus mengurangi potensi gangguan produksi minyak Iran serta risiko terhambatnya jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut. Meski begitu, situasi politik dan keamanan di Iran masih belum sepenuhnya stabil. Pemerintah Iran dilaporkan sempat menutup wilayah udara di sekitar Teheran, sementara AS melakukan penyesuaian penempatan personel di sejumlah pangkalan militernya di Timur Tengah.
Sejak awal tahun, harga minyak memang cenderung menguat. Gejolak politik di Iran sebagai salah satu produsen utama OPEC, ditambah kondisi tidak menentu di Venezuela, telah mengembalikan premi risiko ke pasar minyak. Hal ini terjadi setelah harga minyak sebelumnya tertekan selama beberapa bulan akibat ekspektasi kelebihan pasokan global. Trump juga mengungkapkan telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah Venezuela yang turut membahas isu energi dan minyak.
Di sisi lain, Presiden AS menyebut bahwa Venezuela sebaiknya tetap menjadi bagian dari OPEC, meskipun belum ada kepastian apakah langkah tersebut akan menguntungkan kepentingan Amerika Serikat. Hingga saat ini, belum ada pembahasan resmi antara Washington dan Caracas terkait hal tersebut.
Analis menilai kekuatan harga Brent yang didorong sentimen geopolitik masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, bahkan membuka peluang pengujian level yang lebih tinggi. Namun, risiko pembalikan arah juga cukup besar apabila ketegangan mereda atau kondisi politik di Iran berubah signifikan.
Tekanan tambahan datang dari sisi fundamental, di mana data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat tajam. Kenaikan stok, masuknya tambahan pasokan dari Venezuela, serta gangguan operasional di kawasan Laut Hitam membuat selisih harga WTI terhadap Brent semakin melebar, mendekati level terendah dalam lebih dari satu tahun. Kondisi ini menandakan bahwa pasar minyak masih berada dalam fase volatil, dengan pergerakan harga sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan pasokan global.






