Saham Alibaba Group Holding Ltd. (NYSE: BABA) kembali menjadi sorotan investor setelah kabar terbaru menunjukkan bahwa perusahaan teknologi raksasa asal China itu semakin agresif dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru mengindikasikan bahwa Alibaba bakal melakukan pesanan besar terhadap chip AI Nvidia, langkah yang dianggap dapat memperkuat posisinya dalam persaingan global teknologi canggih.
Pada perdagangan terakhir, harga saham Alibaba naik signifikan setelah munculnya harapan bahwa China akan mengizinkan impor terbatas chip AI Nvidia H200 dalam kuartal ini untuk penggunaan komersial. Keputusan ini berasal dari sinyal positif regulator Beijing setelah beberapa waktu pasar teknologi China menunggu persetujuan tersebut, yang sebelumnya tertunda akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis.
Potensi Pesanan Mega Chip Nvidia
Laporan ke pasar menyebut bahwa Alibaba sedang mempertimbangkan untuk memesan lebih dari 200.000 unit chip Nvidia H200 apabila persetujuan impor menjadi final. Angka ini mencerminkan ambisi besar perusahaan dalam memperkuat infrastruktur AI dan pusat data miliknya, terutama untuk mendukung pengembangan model-model kecerdasan buatan dan layanan cloud yang semakin kompleks.
Chip H200 merupakan salah satu unit pemrosesan AI Nvidia yang dirancang untuk beban kerja pusat data dan pelatihan model besar. Meski bukan generasi terbaru seperti Blackwell, performanya tetap jauh melampaui chip domestik yang tersedia saat ini di China, sehingga menjadi pilihan strategis perusahaan teknologi besar.
Namun, kesepakatan ini bukan tanpa syarat. Peraturan yang dipersiapkan di China kemungkinan akan mengharuskan perusahaan membeli sejumlah chip buatan lokal seiring dengan pembelian chip impor—sebuah langkah yang dimaksudkan untuk mendukung industri semikonduktor domestik sekaligus menjaga kedaulatan teknologi negara.
Respon Pasar dan Dampak Saham
Optimisme atas kemungkinan persetujuan impor chip Nvidia tidak hanya memicu kenaikan saham Alibaba di bursa AS, tetapi juga mempengaruhi sentimen pasar teknologi secara lebih luas. Beberapa analis menilai bahwa langkah ini bisa menjadi pemicu pertumbuhan jangka panjang bagi Alibaba, terutama di unit Alibaba Cloud, yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis AI perusahaan.
Meski demikian, kondisi pasar tetap volatile. Tidak semua laporan menunjukkan reaksi positif: beberapa analis Wall Street telah menyesuaikan target harga saham Alibaba, bahkan melakukan pemotongan pada estimasi mereka. Keputusan Morgan Stanley dan Jefferies yang menurunkan target harga saham menunjukkan bahwa pasar masih melihat tantangan di horizon pertumbuhan Alibaba, meskipun prospek AI tetap kuat.
Strategi Alibaba dalam Balapan AI
Alibaba sendiri secara proaktif telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi AI dan infrastruktur cloud. Perusahaan pada awal 2025 mengumumkan rencana investasi lebih dari $52 miliar (sekitar 380 miliar yuan) dalam tiga tahun untuk memperluas kapasitas cloud serta kecerdasan buatannya. Komitmen investasi ini merupakan salah satu yang terbesar di sektor teknologi China dan mencerminkan ambisinya untuk bersaing dengan raksasa teknologi global lainnya seperti Amazon, Google, dan Microsoft.
CEO Alibaba, Eddie Wu, beberapa kali menegaskan bahwa AI akan menjadi pendorong utama pertumbuhan di masa depan. Fokus pada pengembangan model bahasa besar, platform AI komersial, serta integrasi kecerdasan buatan ke dalam layanan e-commerce dan cloud menjadi strategi utama perusahaan. Langkah ini juga termasuk peluncuran produk-produk AI baru yang bersaing dengan platform generatif AI barat dan lokal dalam ekosistem China yang sangat dinamis.
Selain itu, Alibaba juga aktif mendukung pengembangan startup AI melalui investasi strategis, termasuk perusahaan seperti Zhipu AI yang mendapatkan pendanaan besar bersama dengan Tencent dan investor lainnya. Dukungan ini menunjukan bahwa Alibaba tidak hanya fokus pada inovasi internal, tetapi juga ingin memacu ekosistem AI nasional China untuk tumbuh lebih cepat.
Tantangan di Tengah Geopolitik dan Industri
Tantangan tetap ada. Ketegangan perdagangan dan teknologi antara China dan Amerika Serikat mempengaruhi rantai pasok chip terkemuka, termasuk Nvidia. Meski persetujuan chip H200 memberikan angin segar, pembatasan untuk segmen sensitif seperti militer dan lembaga negara masih ketat. Selain itu, kompetisi AI di China juga semakin intens menghadapi rival seperti ByteDance, Baidu, dan startup-startup lokal lainnya.
Pergerakan Alibaba dalam perlombaan AI ini mencerminkan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek di bursa, tetapi juga memperkuat posisi strategisnya di pasar teknologi global yang tengah berkembang pesat. Dengan kombinasi investasi besar, potensi pesanan chip Nvidia yang besar, serta ekosistem AI yang terus tumbuh, Alibaba berupaya memastikan dirinya tetap relevan di era digital yang semakin kompetitif.






